Satu Hal Yang Tertinggal
Dora, kenapa ya hari ini aku ingat kamu…
5 Februari 2008, kita mendaki di Lereng gunung Welirang
5 bulan sudah kita berpisah
Hari itu menjadi hari terakhir ekspedisi kita
Ingat ga, waktu kita berangkat ke rumahmu hujan2 sore hari..
Kamu ajari aku memakai sandal jepit, naek angkot,
Kamu janji mau belikan aku kacamata, ya kan?
Dipagi buta kita menapaki jalan terjal itu, hanya kau dan aku!!!
kita menyusuri kabut tebal
Aku hampir tak kuat,
Tapi kamu selalu menyemangatiku..
Semangatku mulai ada, saat ku lihat mentari mengintipku dibalik ufuk
Dia menyapaku riang,
Seolah dia ingin berkata;
Ran, bersemangatlah! Aku akan selalu menyinari langkah2mu..
Aku masih simpan semua hasil foto2 kita..
Dora,
Pendakian kita sangat berarti bagiku.
Aku bisa mengambil banyak pelajaran dari semua itu
Meski katamu benar;
Aku ada dipuncak saat itu, tapi hati dan pikiranku melayang entah kemana
Tergantung diluasnya lagit yang menaungi kita hari itu
Meski mentari bersinar cerah hari itu, tapi bagiku
Kabut itu masih enggan beranjak dari hatiku
Dora, ingatkah kamu
Disanalah aku berjanji untuk menuliskan hari baruku
Maaf jika aku belum sempurna memenuhi janjiku…
Tapi aku ingin katakan padamu bahwa aku sudah melangkah
Langkah kecilku menapaki hari baru..
Dora, kelak jika Allah swt. pertemukan kita lagi,
Akan ku ajak kamu menyusuri sudut2 kengangan kita.
Kita akan kembali menapaki tapak kaki menyusuri semak itu
Menangkap puluhan serangga; belalang, capung, dll dengan bidikan kamera
Ingatkah kamu dora?
Andai capung didepan perpus itu masih hidup,
Pasti dia ingin bertemu kita lagi
Masih ingat proyek 500 juta?
Akh, betapa kita sangat pemimpi!!!
Tapi beruntunglah kita berani bermimpi,
Dari situlah kita belajar
Masih ingat arogansi mereka di kebun teh?
Hampir saja kita tidak pernah mencoba,
Seandainya kita putus asa.. huh, jahatnya orang dewasa
Masih ingat hari2 terakhir ke TIKI?
Itu juga bagian mimpi kita,
Akh terlalu banyak yang kita lewati
Dan saat-saat itulah saat-saat terahirku diMalang…
Aku menangis saat membaca suratmu,
Dimalam perpisahan kita..
Aku menagis Dora…
Terlalu banyak kenangan yang harus kukubur..
Aku masih menyimpan smsmu terakhir, saat kamu tau aku akan pergi;
14 February 2008
“ Mee….n, aku ga tau mo berasa gmn pas U telp,
aku rada bengong coz aku msh terbayang proyek kita.
Hm.. masih panjang…
Masih banyak yang harus digapai..
(aku sudah buka link baru ke penerbit)
Dan aku sudah impikan bagian pemberontakan dari satu sisi hidup kita yang kelam..
Aku merasa sedih lihat Bingtang, don’t you?
Tapi klo kamu harus berlari ke tempat laen,
Berlarilah…
Temukan bahagiamu…”
Dora, aku juga jadi ingat Bintang..
Tokoh khayalanku..
Aku juga sedih lihat Bintang,
Aku lama tak menyapanya lagi
Bintang menghilang dengan hilangnya sekolah impianku,
Saat aku bermimpi ingin bertemu Totto-Chan di Indonesia
Klo kamu rindu aku Dora,
Sempatkan susuri sepanjang jalan belakang Balai Kota Malang
Disitulah dulu aku ingin Bintang hidup
Dan sore itu, kita sempat menghabiskan waktu disana
Memandang rumah-rumah kumuh itu
Lembah sungai yang menyisakan sebuah ironi
Aku tak tau bagaimana aku harus menghidupkan Bintang kembali,
Mungkinkah suatu hari nanti aku akan kesana lagi?
Aku kehilangan semua itu Dora…
Seperti aku kehilangan kamu,
Ada satu hal yang tertinggal di Malang
Dan itu adalah kamu, Dora..
Dora, jika dulu kamu katakan iri padaku,
Aku hanya ingin katakan
Hidupku tak sesempurna yang kau bayangkan..
Meski belum sempat kamu bercerita padaku,
Aku tau, saat ini kamupun sedang menapaki proses
Menjadi ‘pejuang sejati’
Sampai hari kamu akan ‘berjanji’
Aku hanya ingin katakan; Selamat berjuang Dora!!
Aku tunggu kamu di jalan yang kita rindukan…
Jalan menuju keridhoan-Nya..
Satu-satunya jalan yang ingin kita tempuh dalam hidup,
Satu-satunya jalan yang mengantarkan kita meraih cita-cita tertinggi,
Menuju Jannaatu ‘Adn.. (amien..)